PERAN PEMIMPIN INFORMAL PADA PRAKTIK TRADISI KORE-METAN DI DESA AITEAS, MUNICIPIO MANATUTO, TIMOR LESTE

  • Evaristo Soares
  • Titi Susilowati Prabawa
  • Gatot Sasongko

Abstract

Strengthening the role of village communities must be carried out in order to build reform for the village itself. One of the most prominent social empathy attitudes as a symptom of rural community life is mutual cooperation. In the Kore-Metan traditional practice, the people of Aiteas Village, Municipio Manatuto, Timor Leste also apply the principle of mutual cooperation. In the effort to develop tradition, the most competent is the customary leader, because he is the informal leader of the tribe. This study aims to determine the role of informal leaders in the practice of Kore-Metan tradition in Aiteas Village. This research use desciptive qualitative approach. Data obtained by interview. The research was conducted in Aiteas Village, Posto Administrative Manatuto, Municipio Manatuto, Timor Leste. Based on the research results, the practice of the Kore-Metan tradition has a function for the people of Aiteas Village: First, the Kore-Metan tradition is a tradition passed down from generation to generation as a useful historical heritage. Second, it gives legitimacy to the beliefs, institutions and rules that already exist in Aiteas Village. Third, the Kore-Metan tradition provides a convincing symbol of collective identity, in this case loyalty to traditional ties and local cultural values. Fourth, the Kore-Metan tradition as a means of consolation. The role of the traditional leader of Aiteas Village is very important in the practice of the Kore-Metan tradition. The role of the Traditional Leader of Desa Aiteas in the practice of the Kore-Metan tradition, namely first, to give direction to the socialization process; second, the inheritor of traditions, beliefs, values, norms and knowledge; third, to unite society; and fourth, turn on the control control system. Social institutions through the role of the Traditional Chairman of Aiteas Village in the practice of the Kore-Metan tradition can be a means for building the character of the Aiteas Village community, because these social institutions contain the values ​​of mutual cooperation, responsibility, adherence to customary values, as well as community unity and integrity.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Agus, A.A. 2016. Keluarga Masyarakat Pedesaan Dalam Kondisi Transisi Kehidupan Masyarakat Tradisional Menuju Masyarakat Modern. Seminar Nasional:Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial Membentuk Karakter Bangsa Dalam Rangka Daya Saing Global. Makasar: Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar dan Himpunan Sarjana Pendidikan Ilmu-ilmu Sosial Indonesia, 447-458.
Bakhtiar. 2017. Hukum Dan Pengendalian Prilaku Sosial. Jurnal Al-Qalb, 9 (2), 173-181.
Cohen, B. J. 1992. Sosiologi: Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta.
Departemen Pendidikan Nasional. 2000. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Edisi ke-3. Jakarta: Balai Pustaka.
Dewantara, A. 2013. Peran Elit Masyarakat: Studi Kebertahanan Adat Istiadat di Kampung Adat Urug Bogor. Al-Turāṡ, 19 (1), 89-117.
Effendi, T.N. 2013. Budaya Gotong-Royong Masyarakat dalam Perubahan Sosial Saat Ini. Jurnal Pemikiran Sosiologi, 2 (1), 1-18.
Enembe, Y., Deeng, D & Mawara, J.E.T. 2018. Kepemimpinan Kepala Suku Pada Suku Lani Di Desa Yowo Distrik Kembu Kabupaten Tolikara. Jurnal Holistik, 11 (21A), 1-15.
Ernawati. 2019. Kosmologi sebagai Pijakan Kreasi dalam Berkarya Seni. Invensi, 4 (2), Desember, 113-129.
Esten, M. 1999. Kajian Transformasi Budaya. Bandung: Angkasa.
Fajri, A. 2017. Peranan Pemimpin Informal Dalam Pembangunan Desa (Studi Di Desa Pulau Terap Kecamatan Kuok Kabupaten Kampar Tahun 2014). JOM FISIP, 4 (1), 1-9.
Gerungan, W. A. 2004. Psikologi Sosial. Edisi ketiga, Cetakan pertama. Bandung: PT. Refika Aditama.
Hadi, N. 2010. “Pethekan”: Kontrol Sosial Pada Masyarakat Tradisional Tengger. Jurnal Sejarah Dan Budaya, 3 (1), 55-61.
Heryani, R.D. 2016. Peran Pemimpin Informal Dalam Pemberdayaan Masyarakat Pada Pelaksanaan Pembangunan Di Desa Pananjung Kecamatan Pangandaran Kabupaten Pangandaran. Moderat: Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan, 2 (4), 198-212.
Idum, V., Linggi, R.K., & Hatuwe, M. 2017. Peran Kepala Adat Dalam Melestarikan Kesenian Daerah Di Desa Batu Majang Kecamatan Long Bagun Kabupaten Mahakam Ulu. eJournal Ilmu Pemerintahan, 5 (4), 1765-1778.
Kartono, K. 2009. Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Khaurinnisa, M. 2014. Kosmologi Ruang Adat sebagai Identitas Pemukiman Kampung Naga, Tasik Malaya-Jawa Barat. Teknik, 35 (1), 49-55.
Kifli, G. C. 2007. Strategi Komunikasi Pembangunan Pertanian Pada Komunitas Dayak Di Kalimantan Barat. Jurnal Forum Peneltian Argo Ekonomi, 25 (2), 117 – 125.
Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Kuswoyo. 2018. Pendekatan Kosmologis Dalam Pengkajian Islam. El-Wasathiya: Jurnal Studi Agama, 6 (1), Juni, 67-78.
Lagantondo, H. 2015. Peranan Masyarakat Dalam Pembangunan Desa Bo’e Kecamatan Pamona Selatan Kabupaten Poso. Jurnal Administratie, 4 (1), 17-23.
Liow, M.R., Laloma, A & Pesoth, W. 2015. Peranan Pemimpin Informal dalam Meningkatkan Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan di Desa Malola. Jurnal Administrasi Publik, 3 (31), 1-9.
Rolitia, M., Achdiani, Y., & Eridiana, W. 2016. Nilai Gotong Royong Untuk Memperkuat Solidaritas Dalam Kehidupan Masyarakat Kampung Naga. Sosietas, 6 (1), 1-17.
Soekanto, S. 2005. Hukum Adat di Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Soekanto, S. 2013. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Suarni, Moita & Syahrun. 2019. Peran Kepemimpinan Informal Pu’utobu Dalam Penyelesaian Sengketa Sosial Budaya Masyarakat Suku Tolaki. Jurnal Fokus Penelitian Budaya: Masalah-Masalah Kebudayaan dan Masyarakat, 4 (1), 36-48.
Supriadi, A. 2015. Peran Kepala Adat Dalam Pembangunan Di Desa Tang Payeh Kecamatan Krayan Kabupaten Nunukan. eJournal Ilmu Komunikasi, 3 (3), 332-346.
Published
2020-12-18
Section
Articles