RESILIENSI PELAKU MALE PAGEANT DI PROVINSI JAWA TIMUR TERHADAP FENOMENA TOXIC MASCULINITY DITILIK TEORI REIVICH AND SHATTE
DOI:
https://doi.org/10.24246/kritis.v34i2.17929Keywords:
Resilience, Male Pageant, Toxic Masculinity, Reivich and Shatte, East JavaAbstract
Fenomena toxic masculinity kian marak di berbagai ruang sosial, termasuk dalam industri male pageant yang berkembang pesat di Provinsi Jawa Timur. Peserta sering dihadapkan pada stereotip maskulinitas tradisional yang menuntut mereka untuk selalu tampil kuat, dominan, dan menekan ekspresi emosional. Tekanan ini dapat memicu stigma, diskriminasi, serta berdampak negatif pada kesehatan psikologis. Dalam konteks tersebut, resiliensi menjadi kemampuan penting yang memungkinkan individu bertahan dan beradaptasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus untuk mengeksplorasi bentuk, faktor, serta mekanisme resiliensi pelaku male pageant terhadap toxic masculinity, dengan mengacu pada tujuh faktor resiliensi Reivich dan Shatté. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap peserta aktif dan alumni, serta analisis data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resiliensi pelaku male pageant didominasi oleh kekuatan internal berupa self-efficacy, regulasi emosi, dan optimisme, yang diwujudkan melalui penerimaan serta pengembangan diri, penegasan keunikan pribadi, pengendalian impuls, dan fokus pada prestasi. Faktor eksternal seperti dukungan sosial berperan sebagai penguat yang memberi validasi dan perspektif positif. Temuan ini menegaskan bahwa kombinasi strategi internal dan eksternal membentuk resiliensi yang proaktif dan berkelanjutan, memungkinkan peserta tidak hanya bertahan, tetapi juga mengubah stigma menjadi motivasi untuk berkembang secara personal dan profesional.
Downloads
References
Abadi, M. Z. (2024). Integrasi Psikologi dan Tasawuf dalam Menangani Dampak Toxic Masculinity pada Kesehatan Mental Pria. Psikodidaktika: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling, 9(2), 617-639.
Al Farabi, M. L. (2024). Persepsi Generasi Z Jawa Timur Tentang Maskulinitas Peserta Male Pageant Pada Unggahan Instagram Portal Pageant@ Selebhunt (Doctoral dissertation, UPN Veteran Jawa Timur).
Awan, K. S., Gillani, S. A., Awan, S., & ul Ain, N. (2024). Exploring the Impact of Self-Silencing on Family Functioning and Emotional Expression among Adults. Research Journal for Social Affairs, 2(4), 57-67.
Dewinda, H. R., Fitria, L., & Wijaya, I. (2024). Resiliensi Remaja. Scopindo Media Pustaka. Surabaya.
Harrington, C. (2021). What is “toxic masculinity” and why does it matter?. Men and masculinities, 24(2), 345-352.
Ichsano, A., Mayangsari, A., Nayla, N., Christcanti, R., Zahra, S. F., & Rizkyanfi, M. W. (2024). Bahasa Indonesia Dan Resiliensi Psikologis: Peran Bahasa Meningkatkan Ketahanan Mental Individu Dalam Menghadapi Tantangan Hidup. Paedagogy: Jurnal Ilmu Pendidikan Dan Psikologi, 4(2), 206-218.
Keith, T. (2020). The bro code: The fallout of raising boys to objectify and subordinate women. Routledge.
McGlashan, M., & Mercer, J. (2023). Toxic masculinity: Men, meaning, and digital media. Routledge.
Nabelkova, E. V., Sautner, M., & Gregorova, A. B. (2023). Enhancing The Resilience Of School Psychologists: The Potential Of Personality Factors And Emotional Flexibility. In Iceri2023 Proceedings (Pp. 6515-6520). Iated.
Panggalo, I. S., Arta, S. K., Qarimah, S. N., Adha, M. R. F., Laksono, R. D., Aini, K., ... & Judijanto, L. (2024). Kesehatan Mental. PT. Sonpedia Publishing Indonesia.
Widianti, N. (2023). Seafarer's resilience ability to cope with stress. European Journal of Human Resource Management Studies, 6(2).
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 KRITIS

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Ketika penulis menyerahkan artikelnya kepada Jurnal Studi Pembangunan Interdisiplin KRITIS, dan jika artikel tersebut disetujui oleh Dewan Editor untuk diterbitkan maka HAK CIPTA dari Artikel tersebut melekat pada Jurnal Studi Pembangunan Interdisiplin KRITIS. Pihak Dewan Editor dapat memperbanyak memperbanyak Artikel tersebut dengan tetap mencantumkan nama penulis.







