PARATE EKSEKUSI HAK TANGGUNGAN KONTRA FIAT PENGADILAN

  • Tan Henny Tanuwidjaya
Keywords: Parate Eksekusi, Hak Tanggungan, Inkonsistensi

Abstract

Abstrak
Pelaksanaan Parate Eksekusi dilakukan oleh Bank sebagai alternatif penyelesaian kredit bermasalah. Artikel ini hendak mengetahui dan menganalisa peranan Parate Eksekusi Hak Tanggungan yang secara teknis sering berbenturan dengan Surat Putusan Mahkamah Agung RI No.3210 K/Pdt/1984 juncto Pasal 224 H.I.R dan Pasal 26 UU Hak Tanggungan (UUHT) dengan memperhatikan ketentuan dalam pasal 14 UUHT. Telah terjadi inkonsistensi pelaksanaan Parate Eksekusi yang diharuskan dengan Fiat Pengadilan, sehingga pelaksanaan pasal 6 UUHT No. 4 Tahun 1996 menjadi terkendala. Terbitnya Surat Edaran Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara (BUPLN) No. SE-21/PN/1998, jo SE-23/PN/2000/ tentang Petunjuk Pelaksanaan Pasal 6 UUHT Nomor 4 Tahun 1996 adalah sesuai dengan ketentuan pasal 6 UUHT, demikian juga dengan Grosse Akta Hak Tanggungan, jo asas lex posterior derogat legi priori yaitu pada peraturan yang sederajat, maka peraturan yang paling baru (UUHT No.4 tahun 1996), mengesampingkan peraturan yang lama (SK.MARI. No. 3210 K/Pdt/ 1984 juncto Pasal 224 H.I.R).

Abstract
The Parate Executie enforcement is conducted by Bank as an alternative settlement for non-performing loan cases. This article will analyze the role of Parate Executie in the matter of mortgage which is technically contradictive with Mahkamah Agung RI Decision No. 3210 K/Pdt/1984 jo Article 224 H.I.R. and Article 26 of Mortgage Law with regard to Article 14 of Mortgage Law. This article found there has been an inconsistent enforcement of Parate Executie that was undertaken with compulsory Fiat. It results a constraint implementation of Article 6 of Mortgage Law. Surat Edaran Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara (BUPLN) No. SE-21/PN/1998, jo SE-23/PN/2000/ regarding implementation regulation of Article 6 of Mortgage Law No. 4 1996 exists to be compatible with the Article. In addition, lex posterior derogat legi priori principle concludes that the latest rule (Mortgage Law No. 4 1999) overrides the former rule (MARI. Decision No. 3210 K/Pdt/ 1984 juncto Article 224 H.I.R).

Downloads

Download data is not yet available.

References

Harahap, M. Yahya, Ruang Lingkup Permasalahan Eksekusi Bidang Perdata (Sinar Grafika 2005).

Poesoko, Herowati, Parate Executie Objek Hak Tanggungan: Inkonsistensi, Konflik Norma dan Kesesatan
Penalaran dalam UUHT (LaksBang Pressindo 2007).

Prodjodikoro, Wirjono, Hukum Perdata Tentang Hak Atas Benda (Intermasa 1986).

Satrio, J., Parate Executie Sebagai Sarana Mengatasi Kredit Macet (Citra Aditya Bakti 1993).

_____, Hukum Jaminan, Hak Jaminan Kebendaan: Hak Tanggungan Buku I (Citra Aditya Bakti 2002).

Sofwan, Sri Soedewi Masjchoen, Hukum Perdata: Hukum Benda (Liberty 1981).

Suyuthi, Wildan, Sita dan Eksekusi Praktek Kepustakaan Pengadilan (Tatanusa 2004).
Published
2016-10-10
How to Cite
Tanuwidjaya, T. (2016). PARATE EKSEKUSI HAK TANGGUNGAN KONTRA FIAT PENGADILAN. Refleksi Hukum: Jurnal Ilmu Hukum, 10(1), 99-109. https://doi.org/10.24246/jrh.2016.v10.i1.p99-109