Pemanfaatan Tanaman Lokal Dayak Ngaju sebagai Sumber Belajar Konservasi Keanekaragaman Hayati
DOI:
https://doi.org/10.24246/juses.v8i2p120-126Keywords:
Calon guru, Keanekaragaman hayati, Pengajaran IPA, Pengetahuan lokal, Tanaman khasAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan evaluasi hasil dari sebuah program peningkatan pedagogical content knowledge calon guru SD, yang dirancang dengan menghubungkan pengetahuan IPA modern dan pengetahuan masyarakat adat Dayak melalui konsep konservasi keanekaragaman hayati. Program ini juga memberikan kesempatan bagi tim dosen untuk berkolaborasi dalam pengembangan kurikulum yang relevan dengan fokus program. Materi yang diajarkan disesuaikan dengan silabus mata kuliah IPA 1, yang mencakup pengetahuan tentang konservasi tanaman lokal Dayak. Fokus penelitian ini adalah pada evaluasi dari proses integrasi pengetahuan lokal terhadap pemahaman calon guru tentang konsep konservasi, kesadaran budaya, apresiasi terhadap pengetahuan tradisional, kepedulian terhadap flora lokal, dan antusiasme terhadap pendekatan pengajaran IPA. Penelitian ini melalui tiga tahapan: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, dan (3) evaluasi serta refleksi. Dimulai dengan kolaborasi tim dosen dalam pengembangan kurikulum dan modul ajar yang relevan, dan dilanjutkan dengan pelaksanaan program selama tiga minggu dengan total jam pembelajaran sekitar 12 jam. Evaluasi dilakukan melalui wawancara pra dan pasca program terhadap mahasiswa PGSD semester 4, sedangkan refleksi dilakukan melalui observasi terhadap tenaga pengajar di dalam program ini. Pemahaman siswa terhadap konsep koservasi meningkat secara signifikan setelah program berlangsung, begitu pula kesadaran budaya dan apresiasi mahasiswa terhadap pengetahuan tradisional. Mahasiswa juga menunjukkan kepedulian terhadap flora lokal dan antusiasme terhadap pendekatan pengajaran IPA. Manfaat tambahan dari program ini termasuk pembentukan habitat bagi flora lokal yang terancam. Cara efektif dalam memasukkan kesadaran budaya dan pengetahuan lokal ke dalam kurikulum IPA sangat dibutuhkan dan diharapkan bahwa program ini menyediakan bukti dalam proses pengimplementasiannya di dalam kelas.
Downloads
References
Cheng, J. C. H., & Monroe, M. C. (2012). Connection to nature: Children’s affective attitude toward nature. Environment and behavior, 44(1), 31-49. DOI: https://doi.org/10.1177/0013916510385082
Friedman, S. (2017). The sounds of silence: Structural change and collective action in the fight against Apartheid. South African Historical Journal, 69(2), 236-250. DOI: https://doi.org/10.1080/02582473.2017.1293719
Getty, G. A. (2010). The journey between Western and Indigenous research paradigms. Journal of transcultural nursing, 21(1), 5-14. DOI: https://doi.org/10.1177/1043659609349062
Kidman, J., Yen, C. F., & Abrams, E. (2013). Indigenous students’experiences of the hidden curriculum in science education: a cross-national study in new zealand and taiwan. International journal of science and mathematics education, 11(1), 43-64. DOI: https://doi.org/10.1007/s10763-012-9365-9
Kim, E. J. A., Asghar, A., & Jordan, S. (2017). A critical review of traditional ecological knowledge (TEK) in science education. Canadian Journal of Science, Mathematics and Technology Education, 17(4), 258-270. DOI: https://doi.org/10.1080/14926156.2017.1380866
Lee, H., Yen, C. F., & Aikenhead, G. S. (2012). Indigenous elementary students’ Science instruction in Taiwan: indigenous knowledge and western Science. Research in Science Education, 42(6), 1183-1199. DOI: https://doi.org/10.1007/s11165-011-9240-7
Natalina, K. (2023). An Exploration of Culture and the Conceptions of Science in Elementary Indigenous Classrooms University of Leicester].
Nicholas, G. (2018). When scientists 'discover' what indigenous people have known for centuries. The conversation. Retrieved 26 January from https://www.smithsonianmag.com/science-nature/why-science-takes-so-long-catch-up-traditional-knowledge-180968216/
Nisbet, E. K., & Zelenski, J. M. (2013). The NR-6: A new brief measure of nature relatedness. Frontiers in Psychology, 4, 63438. DOI: https://doi.org/10.3389/fpsyg.2013.00813
Nopembereni, E. D., Sugiyanto, S., Sukesi, K., & Yuliati, Y. (2019). Local wisdom in shifting cultivation management of Dayak Ngaju Community, Central Kalimantan. Journal of Socioeconomics and Development, 2(1), 38-44. DOI: https://doi.org/10.31328/jsed.v2i1.939
Papp, T. A. (2020). A Canadian study of coming full circle to traditional Aboriginal pedagogy: a pedagogy for the 21st century. Diaspora, indigenous and minority education, 14(1), 25-42. https://doi.org/10.1080/15595692.2019.1652587 DOI: https://doi.org/10.1080/15595692.2019.1652587
Pertiwi, A. D., Nurfatimah, S. A., & Hasna, S. (2022). Menerapkan Metode Pembelajaran Berorientasi Student Centered Menuju Masa Transisi Kurikulum Merdeka. Jurnal Pendidikan Tambusai, 6(2), 8839-8848.
Rundgren, C. J. (2018). Implementation of inquiry-based science education in different countries: some reflections. Cultural Studies of Science Education, 13(2), 607-615. DOI: https://doi.org/10.1007/s11422-016-9787-8
Santika, I. G. N., Suastra, I. W., & Arnyana, I. B. P. (2022). Membentuk karakter peduli lingkungan pada siswa sekolah dasar melalui pembelajaran ipa. Jurnal Education and Development, 10(1), 207-212.
Scheiner, T. (2022). Examining assumptions about the need for teachers to transform subject matter into pedagogical forms accessible to students. Teachers and Teaching, 28(1), 1-11. DOI: https://doi.org/10.1080/13540602.2021.2016688
Sinambela, P. N. (2017). Kurikulum 2013 dan implementasinya dalam pembelajaran. Generasi Kampus, 6(2).
Suyanto, S. (2017). A reflection on the implementation of a new curriculum in Indonesia: A crucial problem on school readiness. AIP Conference Proceedings, DOI: https://doi.org/10.1063/1.4995218
Yunus, V., Zakso, A., Priyadi, A. T., & Hartoyo, A. (2023). Pendidikan Inklusif Pada Kurikulum Merdeka. Jurnal Pendidikan Dasar Perkhasa: Jurnal Penelitian Pendidikan Dasar, 9(2), 313-327. DOI: https://doi.org/10.31932/jpdp.v9i2.2270
Zidny, R., & Eilks, I. (2018). Indigenous knowledge as a socio-cultural context of science to promote transformative education for sustainable development: a case study on the Baduy Community (Indonesia). Building bridges across disciplines for transformative education and a sustainable future, 29, 249-256.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Jurnal Sains dan Edukasi Sains

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.









