“Queering Jesus” A Breakthrough in Doing Theology in the Indonesian Context

Mariska Lauterboom

Abstract


Tulisan ini mencoba menjawab kebutuhan berteologi gereja-gereja di Indonesia di era posmodern. Sudah saatnya gereja (baca: orang Kristen) melihat figur Yesus sebagai seorang “queer,” yaitu salah satu dari mereka yang aneh “yang tidak seperti biasanya,” “yang berbeda dari yang dominan dan normatif,” yang dimarjinalkan dalam masyarakat. Hal ini tentunya akan memberi peluang bagi semua orang untuk diterima dan dihargai. Yesus memang adalah seorang “queer,” karena Ia lahir dari seorang perawan dan tidak punya ayah biologis, kehidupan seksualnya tidak boleh dipercakapkan, Ia hidup dengan pesan dan tindakan yang berbeda dari kelompok yang berkuasa saat itu. Jadi queer di sini tidak hanya dibatasi sebagai sebutan untuk kaum homoseksual saja, tapi untuk semua yang tertindas dalam masyarakat oleh karena adanya perbedaan dan pembedaan. Teori queer mungkin belum begitu dikenal oleh banyak orang di Indonesia, tapi teori ini menurut saya mampu menjawab kebutuhan berteologi di konteks ini, di mana masih banyak orang yang hidup dibedakan dan dimarjinalkan, di mana kaum homoseksual masih belum punya tempat yang “equal” seperti mereka yang heteroseksual. Dengan teori ini maka gereja akan dilihat sebagai gereja yang merangkul semua orang, apapun latar belakang mereka. Pada akhirnya, berteologi queer ini harus dimulai di sekolah/institusi teologi dan di jemaat-jemaat lokal, kini dan disini.


Kata kunci: teori queer, Yesus, homoseksual, penindasan, gereja, konteks Indonesia.


Full Text:

PDF

Abstract viewed 118 times
PDF downloaded 30 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.